The Translation of English Complex Noun Phrases in Rick Riordan’s Percy Jackson and The Olympians: The Lightning Thief into The Indonesian Complex Noun Phrase: A Study of The Patterns Generated



ABSTRAK

          Skripsi ini berfokus pada keakuratan, keberterimaan dan pola yang cocok berdasarkan keakuratan dan keberterimaan terjemahan frasa nomina dari Rick Riordan‟s Percy Jackson and the Olympians: the Lightning Thief yang diterjemahkan oleh Femmy Syahrani. Di dalam novel ini, terdapat banyak frasa nomina. Frasa – frasa nomina tersebut memiliki banyak bentuk di Teks Sumber maupun di Teks Target yang menarik untuk diteliti.
           Ada tiga rumusan masalah yang dibahas di skripsi ini. Masalah pertama adalah seberapa akurat terjemahan Indonesia dari frasa nomina bahasa Inggris di Rick Riordan‟s Percy Jackson and the Lightning Thief. Kedua, seberapa besar tingkat keberterimaan terjemahan Indonesia dari kata benda bahasa Inggris di Rick Riordan‟s Percy Jackson and the Lightning Thief. Ketiga, pola apa yang cocok untuk menerjemahkan frasa nomina berdasarkan hasil analisis keakuratan dan keberterimaan dari terjemahan tersebut. 
       Penelitian ini menggunakan gabungan dari studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan digunakan untuk menemukan keakuratan dan keberterimaan terjemahan di Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief lewat kuesioner. Indikator yang digunakan sebagai acuan untuk menilai kuesioner adalah indikator keakuratan dan keberterimaan milik Nababan. Studi pustaka dibutuhkan untuk mendapatkan informasi lebih tentang konsep dan teori yang dapat menyokong skripsi ini. 
        Hasil pertama dari analisis ini adalah nilai rata – rata dari penilaian keakuratan dari novel terjemahan Percy Jackson the Olympians and the Lightning Thief: Pencuri Petir 1,4 yang termasuk akurat menurut kategori keakuratan Nababan. Frasa nomina diterjemahkan dengan baik, tetapi seringkali penerjemah membuat kesalahan pada pemilihan kata, dan masalah seperti bentuk kemajemukan dan kepemilikan. Skor yang didapat dari penilaian keberterimaan adalah 1,4 dengan kata lain diterima. Frasa nomina diterjemahkan dengan baik, tetapi seringkali penerjemah menggunakan kata yang kurang familiar dan sulit untuk dimengerti walaupun oleh orang Indonesia. Pada analisis terakhir, ditemukan 9 pola penerjemahan. Berdasarkan hasil dari keakuratan dan keberterimaan terjemahan, pola yang cocok digunakan untuk menerjemahkan frasa nomina adalah pola head + modifier. Sebanyak 208 terjemahan menggunakan pola ini. Presentase keakuratan dengan pola tersebut adalah 76% dan keberterimaanya 69%.
[Read More...]


The Influences of Holden’s Alienation and Cynicism on Holden’s Personality Development in J.D. Salinger’s The Catcher in the Rye



ABSTRAK 

       Skripsi ini berusaha untuk membahas perubahan kepribadian Holden dalam novel The Catcher in The Rye karya J.D. Salinger. Perubahan ini tampaknya disebabkan oleh pengaruh anggota keluarga dan juga lingkungan.Sesuai dengan judul skripsi ini, penulis akan menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul: 1) Bagaimanakah sinisme dan keterasingan Holden dideskripsikan? 2) Bagaimana sinisme dan keterasingan dapat mempengaruhi perubahan kepribadian Holden?
    Skripsi ini adalah sebuah studi analisis yang menerapkan metode kepustakaan. Penulis menggunakan  pendekatan psikologi untuk menganalisis bagaimana sinisme dan keterasingan dapat mempengaruhi perubahan kepribadian Holden. Aspek intrinsik yang dipelajari dalam studi ini adalah karakter. 
       Hasil dari studi ini menunjukan bahwa kepribadian Holden berubah menjadi lebih dewasa oleh karena pengaruh sinisme dan keterasingan. Melalui interaksi, anggota keluarga dan lingkungan membawa perubahan positif pada cara berfikir Holden. Perubahan cara berfikir Holden terlihat dari keputusan untuk tetap tinggal bersama keluarganya dari pada menghindar dari kenyataan. Dia merasa bersalah kepada orang-orang yang telah dinilai dengan cara yang buruk. Dia juga merindukan teman-teman sekolahnya setelah banyak melakukan kesalahan dimasa lalu. 
[Read More...]


The Class Struggle as the Impact of Oppression by Ruling Class as seen in Clifford Odets’ Waiting for Lefty



ABSTRACT 

      Tesis ini berawal dari klaim George Lukacs bahwa kritik sastra harus meyuarakan perjuangan kelas agar memperoleh kebebasan yang manusiawi akan produksi sosial-ekonomi yang tidak adil. Berbekal klaim itu, penulis ingin mengkaji sebuah karya sastra yang benar-benar mengkaji permasalah perjuangan kelas. Kriteria tersebut jatuh pada sebuah drama karya Clifford Odets’ Waiting for Lefty. Yang paling menarik dari drama tersebut adalah penokohan karakter-karakternya. Ada dua jenis karakter, kaum kapitalis dan kaum proletar. 
   Untuk mendapatkan penggambaran yang jelas tentang sifat-sifat dari karakter-karakter tersebut, permasalahan yang pertama akan membicarakan tentang hal itu. Setelah mendapatkan sifat-sifatnya, permasalahan selanjutnya akan difokuskan tentang bagaimana kaum proletar ditindas oleh kaum kapitalis. Lebih jauh lagi, fokus permasalahan akan bergerak lebih jauh lagi untuk mengidentifikasi dampak dari penindasan. 
       Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Beberapa langkah yang diterapkan di studi ini adalah mengumpulkan data, melakukan pembacaan yang lebih mendalam, mengambil data yang dibutuhkan untuk rumusan masalah, membaca dan mengungkap penokohan dari karakter-karakter, bagaimana penindasan yang dialami oleh karakter-karakter yang tertindas, dan bagaimana dampak dari penindasan tersebut. Untuk melihat penindasan dan dampak-dampaknya, penulis penelitian ini menggunakan pendekatan Marxisme. Sebuah pendekatanfilsafatekonomi, sosial,dan politik didasarkanpada ide-ide yang melihat perubahan sosial dalam hal faktor-faktor ekonomi. 
      Pada analisa pada penokohan karakter-karakter, kaum proletar dan kaum kapitalis digambarkan dengan jelas pada permasalahan yang pertama. Pada analisa selanjutnya, penulis penilitian ini melihat bagaimana penindasan yang dialami oleh karakter-karakter yang tertindas sebelum mereka mencoba melakukan perlawanan. Lebih jauh lagi, aksi-aksi penindasan itu adalah sebuah aksi yang memicu terjadinya perjuangan kelas. 
[Read More...]


Sandy Dumbrowski’s Personality Development As Seen in Jim Jacobs and Warren Casey’s Grease



ABSTRAK 

       Penelitian ini menganalisa sebuah drama berjudul Grease yang ditulis oleh Jim Jacobs dan Warren Casey. Analisis lebih berfokus pada karakteristik dan perkembangan kepribadian. Ada tiga tujuan dalam penulisan skripsi ini, (1) Untuk mengetahui bagaimana karakter dalam drama dijelaskan. (2) Untuk mengetahui gambaran dan penjelasan dari pengembangan kepribadian karakter utama. (3) Untuk menunjukkan faktor yang mempengaruhi pengembangan kepribadian Sandy Dumbrowski di Grease.
       Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dan dibantu dengan data online sebagai sumber kedua. Sumber utama adalah teks drama berjudul Grease, a new 50’s rock ‘n roll musical, yang ditulis oleh Jim Jacobs dan Warren Casey. Beberapa buku teori sastra dan sumber-sumber online yang terutama membahas tentang Grease dan semua karakteristik dari karakter didalam drama tersebut.
      Ada tiga hal yang dapat disimpulkan setelah menganalisa topik tersebut. Pertama, tokoh utama adalah Sandy Dumbrowski yang lucu, baik, polos, naif, pemalu dan sedikit canggung. Sandy adalah sosok umum gadis remaja yang baik berjuang dengan hidupnya di dalam kehidupan sosial di sekolah Rydell. Cintanya dengan Danny Zuko akan membawanya ke sebuah kisah cinta remaja. Di dalam kisahnya, dia akan mencoba beradaptasi dengan kelompok Pink Ladies, sekelompok gadis yang dianggap terkenal di sekolahnya. Bagian kedua mengenai deskripsi perkembangan kepribadian Sandy. Kepribadiannya akan berubah dari pemalu, baik, dan sedikit canggung menjadi seorang gadis pemberani, lugas dan lebih percaya diri.
       Pengembangan kepribadian terjadi di dekat akhir cerita. Hal ketiga akan memberi gambaran mengenai faktor yang berperan dalam perkembangan kepribadian Sandy Dumbrowski. Faktor pertama adalah factor fisik. Ini mengenai penampilannya. Di dalam cerita, dia menemukan kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam kelompok Pink Ladies karena penampilan konservatif. Faktor kedua adalah perilaku intelektualnya. Beberapa temannya menganggap dia sebagai seorang gadis kikuk. Yang ketiga adalah faktor emosional. Dalam bagian ini, Sandy berjuang dengan perasaannya sendiri dan cintanya pada Danny. Keempat adalah faktor sosial. Dalam bagian ini, Sandy sedang berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan kelompok Pink Ladies, dan ini mengakibatkan perubahan kepribadiannya di akhir drama.
      Bagian kelima adalah factor aspirasi yang melibatkan keinginan untuk mendapatkan cinta Danny. Faktor keenam adalah faktor seks yang menceritakan tentang kisah cinta Sandy dan Danny. Faktor ketujuh berhubungan dengan lingkungan sekolahnya yang berperan besar karena itu terkait dengan semua teman sekolahnya. Faktor terakhir adalah factor yang berasal dari keluarga Sandy yang membentuk perilakunya sejak dini dari awal cerita.
[Read More...]


A Comparative Study on English and Bahasa Indonesia Consonant Clusters





ABSTRAK

       Saat ini, orang- orang di dunia tidak hanya dapat berbicara dalam satu bahasa saja, tetapi lebih dari satu bahasa, sebagai contoh mereka dapat berbicara dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Inggris mempunyai peran yang penting sebagai bahasa internasional. Setiap bahasa mempunyai karakteristik masing-masing dalam susunan konsonan dan vowel seperti CV, VC, CVC, CCV, VCC, dan sebagainya. Satu bahasa berbeda dengan bahasa yang lain dalam hal pembentukan kluster. Konsonan kluster adalah gabungan dari dua atau lebih bunyi konsonan yang berada dalam satu silabel. Dua bahasa mungkin mempunyai persamaan huruf konsonan, tetapi masing-masing bahasa mempunyai caranya sendiri dalam membentuk sebuah kluster. Sebagai contoh, baik bahasa Inggris atau bahasa Indonesia mempunyai fonem /p/, /s/, /l/. Bahasa Inggris mempunyai kluster /spl/ seperti kata split dan splash. Sebaliknya, dalam bahasa Indonesia tidak ada kluster yang dimulai dengan /spl/. Bahasa Inggris juga mempunyai fonem /ksts/ di akhir kata seperti dalam kata texts, tetapi bahasa Indonesia tidak ada kluster berakhiran /ksts/.
       Skripsi ini mempunyai tiga permasalahan. Pertama, konsonan apa saja mungkin terjadi di konsonan kluster dalam bahasa Inggris. Kedua, konsonan apa saja mungkin terjadi di konsonan kluster dalam bahasa Indonesia, kemudian permasalahan yang ketiga adalah apakah persamaan dan perbedaan antara konsonan kluster dalam bahasa Inggris dan konsonan kluster dalam bahasa Indonesia.
      Dalam menganalisa permasalahan diatas, peneliti menerapkan metode analisis kontrastif. Pertama, data konsonan kluster dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dikumpulkan dan dikelompokan sesuai dengan jenis konsonan klusternya. Kemudian peneliti menganalisa ciri-ciri data yang telah dikumpulkan.
       Hasil penelitian dapat digambarkan dari perbandingan konsonan kluster dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Peneliti membandingkan bagaimana kluster itu terbentuk sehingga menemukan persamaan dan perbedaan dari kedua konsonan kluster tersebut. Konsonan kluster dalam bahasa Indonesia lebih sederhana daripada konsonan kluster dalam bahasa Inggris. Konsonan kluster dalam bahasa Indonesia hanya mempunyai dua kluster di akhir atau kita menyebutnya dengan kluster koda, tetapi konsonan kluster dalam bahasa Inggris mempunyai tiga atau lebih dalam kluster koda. Sedangkan untuk konsonan kluster yang terdapat di awal disebut kluster onset. Untuk hal ini, bahasa Indonesia mempunyai system yang sama dengan bahasa Inggris. Baik bahasa Indonesia dan bahasa Inggris mempunyai tiga onset kluster. Bahasa Indonesia mempunyai tiga onset kluster seperti pada kata skripsi. Bahasa Inggris juga mempunyai tiga onset kluster sebagai contoh pada kata scream. Bahasa Indonesia tidak mempunyai morfem terikat dalam sistem pengklusteran, tetapi bahasa Inggris punya. Sebagai contoh pada kata texts, kata texts berasal dari morfem bebas text yang digabungkan dengan sufiks jamak -s menjadi morfem terikat texts.
[Read More...]


A Comparative Study on English and Indonesian Consonant Clusters




ABSTRACT

      Nowadays, people in this world not only can speak one language but also can speak more than one language, for example they can speak both English and Indonesian. Therefore English as the international language has taken a part as an important role. Each language has its characteristic consonants and vowel arrangements such as CV, VC, CVC, CCV, VCC, etc. Language differs from each other in their ways of forming a cluster. Consonant cluster is a combination of two or more consonantal phonemes which belong to one syllable. Two languages may have the same consonants, but each has its own rule to form a cluster. Two languages may have the same consonants, but each has its own rule to form a cluster. Indonesian and English, for instance, have the phonemes /p/, /s/, /l/. English allows the cluster /spl/ as in the words split and splash. On the contrary, Indonesian does not have the word which begins with /spl/. English also allows the phonemes /ktst/ occurring at end of a word as in the word texts, but in Indonesia it does not occur.
    This undergraduate thesis has three problems. The first is what the permissible English consonant clusters are. The second is what the permissible Indonesian consonant clusters are, after that the third problem is what the similarities and differences between English and Indonesian consonant clusters are.
       In order to analyze those three problems, the researcher applied the method of contrastive analysis. First both English and Indonesian data were collected, and grouped into the several groups based on the kinds of consonant clusters. Then the researcher analyzed the feature of the data collected. The result of this research can be drawn from the comparison of English and Indonesian consonant clusters. The researcher compares the ways of forming cluster to find the similarities and the differences of English and Indonesian consonant clusters. Indonesian consonant clusters have a simpler system than English consonant clusters. Indonesian only has two-consonant clusters in the final position or we can call it coda clusters, but English has three or even four coda clusters. For the consonant clusters in initial position or we called it as onset clusters, Indonesian has the same system as English cluster. Both Indonesian and English have three onset clusters. Indonesian has three onset clusters for example in the word skripsi and English also has three onset clusters for example in the word scream. Indonesian does not have bound morpheme in its clustering system, but English has it. For example in the word texts, the word textscontains free morpheme text combine with plural –sso it becomes bound morpheme texts.
[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2010 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by HackTutors